Kapal Perang Amerika Serikat dan Kanada Masuk Selat Taiwan Abaikan Peringatan China

3 Desember 2021, 05:58 WIB
Kapal perang USS Mount Whitney.* /Twitter /©US Sixth Fleet

ZONA PRIANGAN - Militer China mengutuk Amerika Serikat (AS) dan Kanada karena masing-masing mengirim kapal perang melalui Laut China Selatan.

Beijing menganggap keberadaan kapal perang AS dan Kanada bisa mengancam perdamaian, bahkan memicu peperangan.

Laporan mengklaim China dan Amerika Serikat semakin dekat ke bentrokan militer besar di Taiwan.

Baca Juga: Pesawat Mata-mata P-8A, MQ-4C, dan E-8C Masuk Wilayah China, Beijing: Pasukan AS Jadi Target Pertama

The Global Times, sebuah surat kabar China yang dipandang sebagai suara kepemimpinan China, memperingatkan bahwa serangan terhadap Taiwan bisa datang “kapan saja” dan pasukan AS akan menjadi target pertama.

Namun militer AS bersikukuh, pelayaran kapal perang itu sebagai kegiatan rutin dari kampanye kebebasan navigasi.

Dikutip Daily Star, kapal perang AS lainnya berlayar melalui Selat Taiwan seolah mengabaikan peringatan dari China.

Baca Juga: China Terbangkan 27 Jet Tempur ke Taiwan, Beijing: AS Ikut Campur Pasti Kalah

Itu adalah bagian dari apa yang disebut militer Amerika sebagai "aktivitas rutin", tetapi pemerintah China yakin Amerika sedang mencoba untuk meningkatkan ketegangan lebih lanjut.

Menurut South China Morning Post, Angkatan Laut AS mengatakan kapal perusak rudal kelas Arleigh Burke, Milius, melakukan “transit rutin Selat Taiwan”.

Pernyataan Angkatan Laut menambahkan: “Transit kapal melalui Selat Taiwan menunjukkan komitmen AS untuk Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka."

Baca Juga: Kapal Perusak Rudal AS Masuk Laut Hitam, Antonov: Ada yang Mencoba Kekuatan Rusia

"Militer Amerika Serikat terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun yang diizinkan hukum internasional," tambahnya.

Editorial Global Times menggambarkan pemerintah Presiden Tsai Ing-wen sebagai separatis dan mengatakan daratan memiliki hak untuk melakukan serangan militer terhadap mereka kapan saja.

Ini mengancam bahwa jika AS campur tangan, maka akan menghadapi kerugian yang "tak tertahankan".***

Editor: Parama Ghaly

Sumber: Daily Star

Tags

Terkini

Terpopuler