Masa Jaya Kecap Majalengka yang Terancam Sirna (3-Habis)

19 Januari 2021, 21:47 WIB
beberapa industri kecap rumahan yang ada sekarang sekedar mempertahankan peninggalan dan tradisi keluarga. /ZonaPriangan/Rachmat Iskandar /

ZONA PRIANGAN - Sebelum Tahun 2000 Kabupaten Majalengka selain dikenal sebagai Kota Angin juga mendapat julukan kota Pensiun, sedangkan julukan yang paling dikenal adalah Kota Kecap.

Kecap yang masih berdiri dan tetap mempertahankan cita rasa pendirinya adalah kecap Ban Bersayap yang didirikan pertama kali oleh Suntama di tahun 1963. Suntama di Kelurahan Tonjong. Kini usaha kecap dilajutkan generasi ke dua Maman Supratman.

Maman kini melakukan produksi empat kali dalam seminggu dengan jumlah godokan kedelai masing-masing 50 kg. Pasar kecap yang semula hingga Sukabumi dan kota lain, kini pasarnya hanya di Kabupaten Majalengka.

Baca Juga: Pria Gengsi Akui Cemburu, Pahami Ini 5 Tandanya, Nomor 3 Cukup Mengganggu

Namun banyak konsumen yang panatik dengan rasa kecap ban bersayap yang kental dan manis dengan rasa yang khas. Maman tidak pernah mempercayakan penuh terhadap para pekerjanya dan selalu terjun langsung untuk mengolah kacang hingga menjadi kecap guna mempertahankan cita rasa agar tetap disukai konsumen.

Kecap Band Bersayap ini bahkan di Tahun 1995 saking banyaknya konsumen, banyak pedagang gendong yang mengedarkan kecap keliling rumah.

Jika perusahaan kecap lain sudah mulai melakukan terobosan dengan membuat kemasan botol plastik, tidak dengan Rahmat Mulyana, cucu dari Tjia Tjoen Teng. Dia yang memproduksi 8 merek kecap, Kecap Jago, Bunga Matahari, Lokomotif, Kambing, Bendera, Jago Kuning, Matahari dan Teh Tiga Biru ini tetap bertahan dengan kemasan botol kaca.

Baca Juga: Ini Jadwal Pencairan BLT BPJS Rp2,4 Juta di Januari, Disalurkan dalam 2 Kali Transfer Selama 4 Bulan

“Ribet kalau buat kemasan baru harus buat lagi perijinan PIRT, kudu seminar dan lain-lain. Makanya biar lah pake botol beling wae. Botol murah dan mudah, usum panas langsung nyuci botol dan menjemurnya,” ungkapnya.

Banyaknya merek yang ia produksi untuki memnuhi keinginan konsumen. Karena beda daerah selalu berbeda keinginan rasa. Misalnya saja merek Lokomotif untuk memenuhi pasar wilayah Terisi, Indramayu. Cap Kambing untuk memenuhi pasar Pamanukan, Subang.
Sedangkan pasar Majalengka lebih banyak mengkonsumsi keca cap Ayam Jago.

“Rasa juga beda-beda keinginan, ada yang ingin asin, asin sedang, atau manis sedang, ada yang nyebut kurang kental sehingga harus banyak gula. Makanya merekpun berbeda. Kita ikuti saja keinginan pasar, jadi saya buat merek banyak. Tapi yang banyak diproduksi sekarang ini enam merek saja, dua merek akan dihentikan,” ungkap Rahmat.

Baca Juga: Cair Lagi di Januari 2021, Bagi Karyawan yang Belum Dapat BLT BSU BPJS Ketenagakerjaan Rp2,4 Juta

Dia mengaku tak ingin meperluas pasar ke luar kota, pasarnya cukup semua pasar tradisional di Kabuaten Indramayu dan Pamanukan, Subang dan Majalengka.

“Pengusaha kecap mah jago kandang, tidak ingin memperluas pasar. Kemarin ini saya diajak kerjasama oleh perusahaan kecap ternama namun saya tolak. Ribet nanti diperjanjiannya. Khawatir tidak bisa terpenuhi, kalau tidak bisa dipenuhi kita kena pinalti, rugi. Jadi mending usaha sendiri,” ungkap Rahmat yang memiliki 25 orang karyawan.***

Editor: Didih Hudaya ZP

Tags

Terkini

Terpopuler