WHO Mendukung Terapi Oral COVID-19 Keluaran Pfizer Untuk Pasien Berisiko Tinggi

23 April 2022, 11:05 WIB
Pil antivirus COVID-19 Paxlovid keluaran Pfizer yang diproduksi di Freiburg, Jerman, dalam gambar tak bertanggal yang diperoleh Reuters pada 16 November 2021. /Pfizer/Handout via REUTERS

ZONA PRIANGAN - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis mendukung penggunaan pengobatan antivirus COVID-19 oral keluaran Pfizer Inc pada pasien berisiko tinggi setelah analisis data uji coba oleh badan PBB menunjukkan terapi itu secara dramatis mengurangi risiko rawat inap.

Rekomendasi itu muncul ketika dalam setiap minggunya ada ribuan orang meninggal karena COVID-19, meskipun tingkat infeksi global sudah berkurang. Dari perawatan COVID-19 yang ada, sejauh ini Paxlovid dari Pfizer adalah yang paling manjur, kata WHO.

Terapi lainnya termasuk dari pesaingnya Merck & Co yakni pil antivirus molnupiravir, remdesivir intravena Gilead Sciences dan perawatan antibodi.

Baca Juga: Ferrari Akan Menarik Lebih dari 2.000 Mobil di China Karena Masalah Pengereman

Analisis WHO terhadap dua uji klinis Paxlovid yang melibatkan hampir 3.100 pasien menunjukkan bahwa pil antivirus besutan Pfizer itu terbukti dapat mengurangi risiko rawat inap hingga 85%. Pada pasien berisiko tinggi, mereka dengan risiko rawat inap lebih dari 10%, menggunakan Paxlovid dapat menyebabkan 84 rawat inap lebih sedikit per 1.000 pasien, kata badan tersebut.

"Terapi ini tidak menggantikan vaksinasi. Mereka hanya memberi kami pilihan pengobatan lain untuk pasien yang terinfeksi yang berisiko lebih tinggi," kata Janet Diaz, pimpinan WHO pada manajemen klinis, merujuk pada pasien dengan kondisi kronis yang mendasarinya, immunocompromised atau tidak divaksinasi.

Namun, ada tantangan yang dapat membatasi adopsi Paxlovid. Mengingat perlu dilakukan pada tahap awal penyakit agar efektif, akses ke tes yang cepat dan akurat sangat penting untuk mengidentifikasi pasien.

Baca Juga: Adik dan Ibunya Diperkosa Tentara Rusia, Gadis 17 tahun Ini Dibiarkan Karena Dianggap Terlalu Jelek

Tantangan lainnya yakni pil antivirus tersebut dapat berinteraksi dengan banyak obat umum, ini tentunya memperumit dalam hal penggunaannya. Selain itu, Paxlovid belum diteliti untuk digunakan pada wanita hamil, wanita menyusui atau anak-anak.

Faktor-faktor ini telah menyebabkan pasokan Paxlovid melampaui permintaan di negara-negara yang telah menyediakannya selama beberapa waktu.

Saat ini Pfizer tengah berupaya mencapai kesepakatan untuk menjual pil antivirus COVID-19 mereka ke sejumlah negara, tetapi detail seputar harga masih mereka rahasiakan.

Awal tahun ini, perusahaan itu memperkirakan angka penjualan Paxlovid akan menyumbang pemasukan sebesar $22 miliar atau sekitar Rp317,9 triliun dalam penjualan pada tahun 2022. Produsen obat AS telah setuju untuk menjual hingga 4 juta dosis pengobatan kepada UNICEF untuk digunakan di 95 negara berpenghasilan rendah yang mencakup lebih dari setengah populasi dunia.

Baca Juga: Larangan Pemain Rusia dan Belarusia Mengikuti Turnamen Wimbledon Akan Memicu Kebencian dan Intoleransi

Kesepakatan ini menyumbang lebih dari 3% dari proyeksi produksi 120 juta dosis Pfizer pada tahun ini.

Lebih dari 30 pembuat obat generik juga telah diizinkan untuk memproduksi versi obat yang lebih murah untuk dijual di 95 negara, tetapi versi peniru dari sumber yang terjamin kualitasnya ini tidak akan siap dalam jangka pendek, kata WHO, menyoroti kurangnya transparansi soal harga yang berdampak terhadap negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah akan didorong ke ujung antrian, seperti yang terjadi dengan vaksin COVID-19.

Secara terpisah, WHO juga memperbarui rekomendasinya tentang remdesivir Gilead, dengan mengatakan itu harus digunakan pada pasien COVID-19 ringan atau sedang yang berisiko tinggi dirawat di rumah sakit.

Baca Juga: Prangko Bergambar Kapal Rusia yang Tenggelam Jadi Buruan Kolektor, Kantor Pos Nasional Ukraina Diretas

Sebelumnya penggunaan antivirus COVID-19 remdesivir Gilead direkomendasikan pada semua pasien COVID-19, terlepas dari tingkat keparahan penyakitnya.***

Editor: Yudhi Prasetiyo

Sumber: Reuters

Tags

Terkini

Terpopuler